Perilaku Serba Instan dan Erosi atas Nalar Manusia

2 days ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Kutipan Nicholas Carr pada buku yang diterbitkannya pada 2010 lalu nampaknya semakin relevan untuk melihat kondisi saat ini. Dahulu media sosial hadir sebagai jalan pintas yang tampak membebaskan manusia. Orang dapat mengabarkan peristiwa tanpa perlu menunggu redaksi media, kita dapat membangun jejaring tanpa batas geografis, dan menemukan hiburan tanpa harus patuh pada jadwal televisi.

Saat ini, Kecerdasan Artifisial (KA) mempercepat arus itu. Banyak ruang digital kini menyediakan jawaban yang muncul seketika, lengkap dengan gaya bahasa yang rapi. Kecepatan ini mengubah harapan sosial. Banyak orang mulai menganggap waktu jeda pun harus diisi dengan kegiatan, yang sebagian besar bentuknya adalah menghanyutkan diri di dunia maya. Hal ini menjauhkan manusia dari kemampuan kontemplasi diri.

Pew Research Center melaporkan 73 persen remaja di Amerika Serikat mengakses Youtube setiap hari, dan sekitar enam dari sepuluh mengakses TikTok tiap hari, sementara hampir separuh remaja menyebut diri online hampir terus menerus (Faverio & Sidoti, 2024). Common Sense Media (2023) menemukan lebih dari separuh partisipan remaja menerima 237 notifikasi atau lebih per hari.

Notifikasi yang menumpuk mengajari otak untuk memecah perhatian menjadi fragmen kecil. Pola ini menyulitkan pembacaan panjang, pemikiran bertahap, dan pemrosesan emosi yang stabil. Media sosial lalu bertemu KA yang menawarkan jawaban instan, dan kombinasi itu membuat manusia membuat jarak yang pendek antara rasa ingin tahu dan rasa puas.

Bila coba melakukan refleksi pribadi, kita mungkin cenderung susah lepas dari akses internet yang ada pada genggaman. Ketika mengantre di bank, ketika duduk di kereta komuter, ketika mendengarkan orang presentasi, atau bahkan ketika istirahat, otak kita tidak diberi jeda untuk rehat. Kita pernah gelisah untuk segera mengecek email, membuka aplikasi berbagi pesan instan ataupun status sosial media orang lain yang muncul di linimasa. Melihat potensi bahaya yang ada, bahkan Youtube membuat fitur untuk menanggulangi perilaku scroll dooming anak-anak pada video Youtube Shorts.

Dalam ilmu komunikasi, agenda setting menjelaskan bagaimana media memengaruhi sebuah isu yang terasa penting di benak publik (McCombs & Shaw, 1972). Pada ekosistem digital hari ini, tren bergerak cepat sehingga perhatian pun bergeser cepat. Meskipun bukan lagi dikendalikan redaksi, namun kecepatan itu tidak netral. Isu yang membutuhkan waktu untuk dipahami sering kalah oleh isu yang menawarkan reaksi cepat. Perdebatan publik lalu mengejar topik yang mudah dibagikan, bukan topik yang perlu diselesaikan. Banyak orang merayakan partisipasi karena komentar dan unggahan sudah tampak sebagai keterlibatan. Padahal keterlibatan yang sehat biasanya menuntut waktu untuk membaca, memeriksa, dan menimbang bobot konsekuensinya.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Kecerdasan Artifisial (KA) generatif menambah risiko baru karena sistem ini meniru bentuk pengetahuan manusia. UNESCO menekankan perlunya pendekatan berpusat pada manusia dalam penggunaan KA generatif di pendidikan dan riset, karena teknologi ini membawa risiko akurasi, bias, privasi, dan ketergantungan pada hasil yang instan. Masalahnya, risiko tersebut sulit untuk disadari oleh manusia. Bahaya itu tidak selalu muncul sebagai sebuah kebohongan yang terang benderang seperti layaknya kabar hoaks di media sosial yang selama ini kita kenal. Risiko sering muncul sebagai kalimat yang meyakinkan, logis, namun menyesatkan. Ketika KA melayani permintaan dalam hitungan detik, banyak orang menukar proses belajar dengan ilusi pemahaman.

Di ruang kelas dan kampus, budaya instan juga mengubah relasi seseorang dengan pengetahuan. Uses and gratifications theory menjelaskan bahwa orang memakai media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan, identitas, relasi, atau informasi (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1973). Ketika beban akademik, tekanan sosial, dan linimasa media sosial bertabrakan, banyak orang memilih jalur tercepat untuk meredakan cemas, yaitu mencari jawaban instan. KA dan media sosial menyediakan jalan itu dengan mudah. Hal itu membuat kebutuhan validasi mendominasi diri, sedangkan prestasi hanyalah ilusi.

Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang melakukan asesmen pada kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun menunjukkan gejala itu. Rata-rata skor Indonesia tercatat hanya 369. Angka ini berada di bawah Thailand yang meraih 394, Malaysia 404, dan terpaut cukup jauh dari Vietnam yang mencapai 468 (Satria, 2026).

Jika dikaitkan dengan perilaku berinternet masyarakat Indonesia, skor ini tidaklah mengagetkan. Kita cenderung mengulangi tindakan yang sama atau serupa berulang kali yang biasanya dengan kecepatan tinggi atas konsumsi video pendek di media sosial. Kebiasaan tenggelam dalam lautan kata-kata ketika membaca buku, surat kabar dan majalah kemudian tergantikan dengan perilaku yang layaknya meluncur di permukaan air seperti orang mengendarai jetski.

Serba instan juga memengaruhi cara orang membangun pendapat. Spiral of silence menjelaskan kecenderungan sebagian orang menahan opini ketika merasa opini itu tidak populer (Neumann, 1974). Arus percakapan di media sosial yang bergerak cepat sering member...

Read Entire Article