Kapitalisme Digital & Patriarki Membentuk Lahan Subur Child Grooming

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi child grooming. Foto: Unsplash

Lonjakan kasus child grooming di Indonesia belakangan ini tidak dapat dipahami hanya sebagai perbuatan jahat individual atau sekadar “kesalahan orang tua”.

Data tahun 2025 memperlihatkan gambaran yang jauh lebih serius: berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA)—yang dikelola Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak—tercatat lebih dari 35.000 korban kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2025, yang termasuk bentuk-bentuk kekerasan online dan seksual terhadap anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga mencatat 2.031 kasus pelanggaran hak anak sepanjang 2025, dengan 2.063 korban anak akibat berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi dalam konteks digital.

Catatan resmi ini menggarisbawahi bahwa praktik grooming—yaitu upaya orang dewasa membangun kedekatan emosional dengan anak melalui kanal digital untuk tujuan eksploitasi—terjadi di lingkungan yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan: bukan hanya sekadar interaksi berbahaya antarindividu, melainkan juga sebagai fenomena yang berakar dari konfigurasi sosial-ekonomi dan budaya yang lebih luas.

Platform Digital dan Relasi Kuasa yang Tersamar

Media sosial, online game, dan aplikasi perpesanan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja Indonesia. Di satu sisi, ruang digital menawarkan kesempatan bersosialisasi, belajar, dan berekspresi. Di sisi lain, desain platform sering kali mengoptimalkan algoritma untuk memaksimalkan keterlibatan bukan keselamatan pengguna.

Ilustrasi algoritma. Foto: Dok. Kuncie/Telkomsel

Sistem platform yang memprioritaskan durasi penggunaan dan keterlibatan aktif membuat anak-anak dan remaja menjadi pengguna tetap. Dalam skenario ini, interaksi sosial bukan murni sekadar percakapan, melainkan juga diubah menjadi sumber nilai ekonomi: perhatian pengguna, data perilaku, dan hubungan personal menjadi bagian dari mesin kapital digital. Dalam ekosistem yang dikendalikan oleh logika pasar ini, celah untuk manipulasi emosional menjadi sempit, tetapi berbahaya.

Pelaku grooming memanfaatkan fitur-fitur seperti chat privat, kemungkinan bertemu dengan orang tak dikenal lewat obrolan atau game. Akibatnya, kurangnya moderasi ketat sebagai sarana membangun kedekatan emosional dengan korban.

Manipulasi ini jarang terjadi dalam sekali waktu; prosesnya bertahap, lambat, dan sering tampak “normal” di permukaan karena dikemas sebagai bentuk perhatian, hadiah digital, atau “teman berbicara”.

Respons yang muncul setelah kasus terungkap sering kali bersifat reaktif: akun ditutup, pelaku ditangkap, imbauan keamanan dirilis. Namun, struktur yang memfasilitasi kejadian serupa—berulang tetap berdiri platform dengan desain yang sama—masih beroperasi dengan insentif ekonomi yang sama, tanpa perubahan substansial pada mekanisme perlindungan.

Ini menunjukkan bahwa masalah bukan hanya pada tingkah laku pelaku, melainkan juga pada bagaimana relasi sosial dibentuk dan dimonetisasi di dalam ekonomi digital.

Ketimpangan Gender, Norma Sosial, dan Kerentanan Anak Perempuan