Berburu Literasi Tua di Timur Stadion Diponegoro

22 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Berburu Literasi Tua di Timur Stadion Diponegoro Deretan kios buku tua di Jalan Gang Stadion Timur, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.(MI/Akhmad Safuan)

CUACA berawan menyelimuti Kota Semarang pada akhir pekan di penghujung Januari. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir masih menyisakan genangan di sejumlah kawasan. Lalu lintas di jalan-jalan utama tampak ramai, namun suasana berbeda terasa di Jalan Gang Stadion Timur, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah.

Ruas jalan selebar sekitar lima meter di belakang Stadion Diponegoro itu tampak lengang. Hanya sesekali kendaraan melintas. Di sepanjang jalan, berdiri kios-kios kayu sederhana yang menjajakan buku-buku tua. Sebagian kios masih tertutup meski hari sudah beranjak siang.

Aroma khas kertas usang tercium dari kios-kios yang terbuka. Tumpukan buku dengan sampul kusam dan halaman menguning tersusun di rak-rak kayu. Beberapa mahasiswa terlihat berhenti tanpa turun dari sepeda motor, bertanya sambil sesekali menatap layar gawai mereka.

“Ada buku pajak penghasilan atau Ordonnantie op de Herziene Inkomstenbelasting tahun 1920 dan pajak perseroan tahun 1925?” tanya Susiana, mahasiswi hukum di salah satu perguruan tinggi di Semarang.

Haryono (55), pedagang buku, membetulkan kacamatanya sebelum memilah tumpukan buku di rak belakang kios. Ia kemudian menyodorkan sebuah buku tua dengan halaman menghitam dan tulisan perak yang mulai memudar.
“Harganya Rp30 ribu, tinggal satu ini,” katanya.

Tanpa banyak tawar-menawar, dua mahasiswi yang datang berboncengan itu langsung membayar. Mereka segera pergi, dan suasana kembali sepi seperti semula.

Di kios lain, beberapa warga tampak tekun memilih buku. Entah judul apa yang dicari, yang jelas buku dan majalah itu tampak lawas. Ada pula buku edisi lama yang masih terlihat bersih, meski sudah lama tidak dicetak ulang.

MASA KEJAYAAN BUKU LOAK
Jalan Gang Stadion Timur bukan tempat asing bagi pelajar dan mahasiswa Semarang. Kawasan ini dikenal sebagai sentra kios buku loak, rujukan utama untuk mencari buku-buku yang sudah tak terbit lagi atau tak tersedia dalam format digital.

Kawasan ini mencapai masa kejayaan pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, deretan kios selalu ramai pengunjung yang berburu buku pelajaran, novel, komik, hingga majalah anak dan dewasa.

“Dulu, sebelum teknologi digital berkembang seperti sekarang, setiap hari bisa ratusan orang datang membeli buku,” ujar Kasno, salah satu pedagang buku loak. “Harga buku bekas jauh lebih murah, bisa 30 sampai 50% dari harga toko.”

Kini, suasana itu tinggal kenangan. Meski masih puluhan kios yang buka setiap hari, pengunjung jauh berkurang. Perubahan perilaku membaca dan maraknya toko buku daring membuat kawasan ini memasuki masa senja.

Namun, kesetiaan sebagian pengunjung masih bertahan. Dewi Kartika (48), ibu rumah tangga asal Semarang, mengaku telah berlangganan buku bekas di kawasan ini sejak masa sekolah. “Sampai sekarang masih sering ke sini. Kalau untuk anak-anak biasanya cari novel, kalau saya buku resep masakan,” tuturnya.

BERTAHAN DI TENGAH ARUS DIGITAL
Kios buku loak di belakang Stadion Diponegoro merupakan bagian dari sejarah literasi Kota Semarang. Tempat ini dikenal sebagai surga pencari buku murah dan langka, sekaligus saksi perubahan zaman.

Menghadapi sepinya pengunjung, sejumlah pedagang mulai beradaptasi. Mereka memanfaatkan penjualan daring untuk menjangkau pembeli yang lebih luas, terutama mahasiswa yang membutuhkan referensi lama.

“Meskipun tidak banyak, tetap ada yang mencari. Biasanya mahasiswa membutuhkan literasi tua yang tidak ada versi digitalnya,” kata Hardi (30), pedagang buku bekas.

Di tengah gempuran digitalisasi, kawasan buku loak ini mungkin tak lagi seramai dulu. Namun, di balik kios-kios kayu dan halaman buku yang menguning, semangat menjaga jejak literasi lama masih bertahan. (E-2)

Read Entire Article